andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu mendayu.. merayu... kepada-NYA
Tuhan yang satu
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .
sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia-siakan walau sesaat
yang berlalu setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan bertarawih, berqiamullail, bertahajjud. ..mengadu... merintih... meminta belas kasih"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"
andai kau tahu ini Ramadhan terakhirtentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru... kita cari...
suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri, rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan lorong-lorong ridha Ar-Rahman
Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling berarti, paling berseri
menerangi kegelapan hati kami menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayang-Mu
Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti
Namun teman...tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha, bersedia, meminta belas-NYA
Andai benar ini Ramadhan terakhir buat kita
MAAFKAN SEMUA KESALAHAN YANG PERNAH DI LAKUKAN
Senin, 24 Agustus 2009
Minggu, 23 Agustus 2009
Piala Ramadhan, Siapa Memperebutkan???
Apa yang dirasakan oleh juara Euro 2008, Tim Spanyol, ketika ia dipastikan menjadi juara dalam event besar itu? Tentu luapan kegembiraan dan suka cita menyatu dalam diri mereka. Tidak hanya pemain, pelatih, dan tim saja, bahkan semua warga negara Spanyol menyatu dalam kegembiraan itu. Dunia memujinya, publik menyanjungnya. Spanyol jadi buah bibir.
Keberhasilan itu hasil jerih perjuangan panjang dan melelahkan. Penantian selama empat puluh tiga tahun untuk merebut kembali predikat sang juara. Penuh kesungguhan dan kedisiplinan.
Bagaimana jika piala itu datangnya dari Tuhannya manusia?. Bagaimana jika predikat juara itu disematkan oleh Pemilik alam raya ini?. Bagaimana jika yang menyanjung itu adalah Penentu kehidupan semua makhluk?.
Secara fitriyah dan imaniyah, pasti orang akan berebut piala dan predikat juara dari Tuhannya. Tentu jauh lebih mulia, istimewa dibandingkan dengan sanjungan manusia.
Ya, itulah peraih sukses Ramadhan. Orang yang mampu melewati event besar ini sampai finish dengan kesungguhan. Ia meraih predikat taqwa, sebagai identitas tertinggi manusia. Ia meraih piala Ar Royyan, surga spesial bagi shaaimin dan shaaimat.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).
“Sesungguhnya didalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq alaih)
Bahkan tidak hanya itu, orang yang sukses Ramadhan, mengisinya dengan kesungguhan, akan meraih berbagai keistimewaan dan kemuliaan.
Karena Ramadhan menjanjikan: Kelipatan pahala, pengkabulan do’a, pemudahan amal shaleh, penghapusan dosa, surga dibuka lebar-lebar, neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu. Dan di dalamnya ada malam lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan senilai usia rata-rata manusia, bagi yang meraihnya. Subhanallah!
Nabi saw. bersabda: “Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR. Bukhari-Muslim).
“Setiap amal anak Adam -selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah swt. berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya.” (HR. Muslim).
“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim).
“Orang yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR. Ibn Majah, sanad hadits ini sahih).
Yang lebih penting untuk diperhatikan di sini adalah, persiapan dan pengkondisian sebelum Ramadhan datang.
Seperti Tim Spanyol, yang harus berjibaku sepanjang waktu mempersiapkan diri menghadapi musim pertandingan.
Begitu juga dengan persiapan Ramadhan. Apa yang perlu dipersiapkan?
Persiapan fikriyah atau pemahaman tentang Ramadhan. Persiapan ruhiyah atau ibadah ritual. Persiapan maddiyah atau fisik dan material.
Bulan Sya’ban telah menjelang. Bulan di mana Rasulullah saw. meningkatkan aktivitas ibadah. Bahkan diriwayatkan beliau hampir-hampir shaum sunnah sebulan penuh.
Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud meriwayatkan, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.
“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Engkau melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”
Dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban.” Imam Bukhari.
Subhanallah, kondisi ruhiyah, fikriyah dan maddiyah sudah dipersiapkan sebulan, bahkan dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Sehingga ketika Ramadhan datang, kita sudah terbiasa, terkondisikan dengan kesungguhan dan ketaatan. Dan karena itu kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Ramadhan akan dapat diraih. Keluar Ramadhan meraih predikat muttaqin dan piala Jannatur Rayyan, insya Allah. Allahu a’lam
Keep Istiqamah ^_^
Ulis Tofa, Lc.
Keberhasilan itu hasil jerih perjuangan panjang dan melelahkan. Penantian selama empat puluh tiga tahun untuk merebut kembali predikat sang juara. Penuh kesungguhan dan kedisiplinan.
Bagaimana jika piala itu datangnya dari Tuhannya manusia?. Bagaimana jika predikat juara itu disematkan oleh Pemilik alam raya ini?. Bagaimana jika yang menyanjung itu adalah Penentu kehidupan semua makhluk?.
Secara fitriyah dan imaniyah, pasti orang akan berebut piala dan predikat juara dari Tuhannya. Tentu jauh lebih mulia, istimewa dibandingkan dengan sanjungan manusia.
Ya, itulah peraih sukses Ramadhan. Orang yang mampu melewati event besar ini sampai finish dengan kesungguhan. Ia meraih predikat taqwa, sebagai identitas tertinggi manusia. Ia meraih piala Ar Royyan, surga spesial bagi shaaimin dan shaaimat.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).
“Sesungguhnya didalam surga ada pintu bernama Royyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq alaih)
Bahkan tidak hanya itu, orang yang sukses Ramadhan, mengisinya dengan kesungguhan, akan meraih berbagai keistimewaan dan kemuliaan.
Karena Ramadhan menjanjikan: Kelipatan pahala, pengkabulan do’a, pemudahan amal shaleh, penghapusan dosa, surga dibuka lebar-lebar, neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu. Dan di dalamnya ada malam lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan senilai usia rata-rata manusia, bagi yang meraihnya. Subhanallah!
Nabi saw. bersabda: “Bila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR. Bukhari-Muslim).
“Setiap amal anak Adam -selama Ramadhan- dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah swt. berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku langsung yang akan memberikan pahala untuknya.” (HR. Muslim).
“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim).
“Orang yang berpuasa doanya tidak ditolak, terutama menjelang berbuka.” (HR. Ibn Majah, sanad hadits ini sahih).
Yang lebih penting untuk diperhatikan di sini adalah, persiapan dan pengkondisian sebelum Ramadhan datang.
Seperti Tim Spanyol, yang harus berjibaku sepanjang waktu mempersiapkan diri menghadapi musim pertandingan.
Begitu juga dengan persiapan Ramadhan. Apa yang perlu dipersiapkan?
Persiapan fikriyah atau pemahaman tentang Ramadhan. Persiapan ruhiyah atau ibadah ritual. Persiapan maddiyah atau fisik dan material.
Bulan Sya’ban telah menjelang. Bulan di mana Rasulullah saw. meningkatkan aktivitas ibadah. Bahkan diriwayatkan beliau hampir-hampir shaum sunnah sebulan penuh.
Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud meriwayatkan, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.
“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Engkau melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”
Dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban.” Imam Bukhari.
Subhanallah, kondisi ruhiyah, fikriyah dan maddiyah sudah dipersiapkan sebulan, bahkan dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Sehingga ketika Ramadhan datang, kita sudah terbiasa, terkondisikan dengan kesungguhan dan ketaatan. Dan karena itu kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Ramadhan akan dapat diraih. Keluar Ramadhan meraih predikat muttaqin dan piala Jannatur Rayyan, insya Allah. Allahu a’lam
Keep Istiqamah ^_^
Ulis Tofa, Lc.
Sabtu, 22 Agustus 2009
arti penting sahabat
sebuah kekuatan yang tumbuh dari ikatan karena Alla SWT yang sulit terputus kecuali Dia yang menghendaki...
Sedekah Tidaklah Mesti Dengan Harta
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Sesungguhnya sebagian
dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat
sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan
mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka". Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu
sesuatu untuk bershodaqaoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah
shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah
shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran
adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan
istrinya) adalah shodaqoh ". Mereka bertanya, " Wahai Rasulullah, apakah
(jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat
pahala?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tahukah
engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa.
Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia
mendapat pahala". (HR. Muslim no. 2376)
PENJELASAN DAN FAEDAH HADITS
Para Shahabat Bersemangat Dalam Melakukan Kebaikan
Kita dapat melihat dalam hadits ini bahwa para shahabat radhiyallahu
'anhum ajma'in sangat bersemangat dalam melakukan kebaikan dan saling
berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan dan amal sholih. Setiap di
antara mereka ingin mendapatkan sebagaimana yang didapati oleh yang
lainnya.
Dalam hadits ini terlihat bahwa shahabat-shahabat yang miskin mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengadukan kepada
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai orang-orang kaya yang
sering membawa banyak pahala karena sering bersedekah dengan kelebihan
harta mereka. Namun, pengaduan mereka ini bukanlah hasad (iri) dan
bukanlah menentang takdir Allah. Akan tetapi, maksud mereka adalah untuk
bisa mengetahui amalan yang bisa menyamai perbuatan orang-orang kaya.
Shahabat-shahabat yang miskin ingin agar amalan mereka bisa menyamai
orang kaya yaitu dalam hal sedekah walaupun mereka tidak memiliki harta.
Akhirnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan mereka
solusi bahwa bacaan dzikir, amar ma'ruf nahi mungkar, dan berhubungan
mesra dengan istri bisa menjadi sedekah.
Marilah Gemar untuk Bersedekah
Dalam hadits ini, kita dapat melihat bahwa shahabat-shahabat yang kaya
gemar sekali untuk berinfak dengan kelebihan harta mereka. Untuk lebih
memotivasi kita untuk banyak berinfak, kita dapat melihat pada firman
Allah Ta'ala,
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah [2] :
261)
Inilah permisalan yang Allah gambarkan yang menunjukkan berlipat
gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu selalu
mengharap ridho-Nya. Dan ingatlah bahwa setiap kebaikan akan dibalas 10
hingga 700 kali lipat.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, "Ayat ini merupakan isyarat
bahwa setiap amal sholih yang dilakukan akan diiming-imingi pahala yang
berlimpah bagi pelakunya. Sebagaimana Allah mengiming-imingi tanaman
bagi siapa yang menanamnya di tanah yang baik (subur)."
Sedekah, Tidak Hanya Berupa Harta
Dapat kita lihat dalam hadits ini bahwa suri tauladan kita -Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam- memberikan petunjuk kepada kita bahwa
sedekah bukanlah hanya dengan harta sehingga orang-orang miskin pun bisa
melakukannya. Di sini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menyebutkan bahwa bentuk sedekah yang lainnya adalah dengan bacaan
tasbih yaitu dzikir Subhanallah, bacaan takbir yaitu dzikir Allahu
akbar, bacaan tahmid yaitu dzikir Alhamdulillah, dan bacaan tahlil yaitu
dzikir Laa ilaha illallah. Begitu juga termasuk sedekah adalah mengajak
orang lain yang lalai untuk melakukan ketaatan dan melarang orang lain
dari perbuatan yang mungkar.
Perbuatan ini semua termasuk sedekah yang mampu dilakukan oleh orang
miskin dan bisa dilakukan setiap saat. Sedangkan, orang kaya hanya
mungkin dapat bersedekah pada satu waktu dan bukan setiap saat.
Berhubungan Intim dengan Istri Juga Termasuk Sedekah
Dalam hadits ini juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menyebutkan di antara bentuk sedekah yang lain adalah jima'
(bersenggama) dengan istri.
Namun, tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memaparkan yang
demikian, para shahabat langsung timbul tanda tanya. Bagaimana bisa
seseorang mendatangi istrinya dengan syahwat termasuk sedekah?
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab keraguan dari para shahabat
ini dengan menggunakan qiyas bil'aqsi (analogi yang berkebalikan) . Yaitu
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan "Tahukah engkau jika
seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian
pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat
pahala."
Ada perkataan yang sangat bagus sekali dari An Nawawi tatkala
menjelaskan makna hadits ini.
Beliau rahimahullah mengatakan, "Ketahuilah bahwa syahwat jima' adalah
syahwat yang paling disukai oleh para Nabi 'alaihimush sholatu was salam
dan orang-orang sholih. Mereka mengatakan,' Karena di dalam syahwat
tersebut terdapat maslahat (manfaat) diniyyah (agama) dan duniawiyyah
(dunia) di antaranya adalah bisa menjaga pandangan, menahan diri dari
zina, bisa menghasilkan anak dan memperbanyak umat ini hingga hari
kiamat. Syahwat selain jima' lebih akan mengeraskan hati sedangkan
syahwat jima' ini lebih akan melembutkan (mententramkan) hati'."
(Dinukil dari Ad Durotus Salafiyyah, hal 186)
Sedekah Ada yang Wajib dan Sunnah
Macam-macam sedekah yang disebutkan di atas yaitu bacaan dzikir dan
sebagainya, ada yang wajib dan sunnah.
Bacaan takbir, ada yang wajib dan ada yang tidak wajib. Takbiratul ihram
dalam shalat termasuk kewajiban dan bacaan takbir sesudah shalat adalah
anjuran (sunnah). Begitu juga dengan bacaan tahlil, tasbih, dan tahmid.
Amar ma'ruf nahi mungkar yaitu memerintahkan kepada ketaatan dan
mencegah dari kemungkaran, ini juga ada yang wajib yaitu fardhu 'ain
bagi yang memiliki kemampuan dan ada yang sifatnya fardhu kifayah yaitu
apabila sebagian telah melakukkannya dan mencukupi maka yang lain
menjadi gugur kewajibannya, juga ada yang hukumnya mustahab
(dianjurkan) .
Namun, untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar hendaklah melihat
syarat-syarat berikut ini.
Syarat Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar
Amar ma'ruf (memerintahkan kepada ketaatan) harus memiliki dua syarat
yaitu :
Pertama, orang yang memerintah harus memiliki ilmu bahwa yang
diperintahkan adalah suatu ketaatan. Jika dia tidak memiliki ilmu maka
dia tidak boleh beramar ma'ruf. Karena apabila seseorang seseorang
beramar ma'ruf padahal dia tidak mengetahui ilmunya (alias 'jahil atau
bodoh') maka berarti dia telah berkata tentang Allah tanpa ilmu.
Kedua, orang yang memerintah harus mengetahui bahwa orang yang
diajak/diperintah telah meninggalkan suatu kewajiban. Jika yang
memerintah tidak mengetahuinya, dia harus bertanya terlebih dahulu.
Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Jabir, beliau berkata,
"Pada hari Jum'at, seorang pria memasuki masjid sedangkan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Lalu Nabi berkata,
'Apakah kamu sudah shalat (tahiyatul masjid, pen)?' Pria tadi menjawab,
'Belum'. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Maka
shalatlah (tahiyatul masjid, pen) sebanyak dua raka'at. " (HR. Bukhari
no. 931)
Maka dalam hadits di atas terlihat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak memerintah langsung sebelum mengetahui apakah sudah
melakukan shalat atau belum.
Begitu juga nahi mungkar atau melarang dari kemungkaran juga harus
terpenuhi tiga syarat :
Pertama, harus diketahui terlebih dahulu bahwa perbuatan tersebut adalah
mungkar berdasarkan dalil syar'i dan bukan persangkaan atau pendapat
semata. Karena terkadang manusia mengingkari orang lain padahal dia
melakukan perbuatan yang disyari'atkan.
Kedua, harus diketahui bahwa orang yang ingin dilarang telah terjatuh
dalam suatu kemungkaran. Jika tidak mengetahui demikian, dia tidak boleh
melarang yang lainnya.
Misalnya : Ada seseorang makan dan minum pada saat Ramadhan di masjid.
Maka seseorang tidak boleh mengingkarinya sampai dia menanyakan terlebih
dahulu, apakah orang tersebut seorang musafir atau bukan. Karena seorang
musafir boleh saja makan dan minum ketika ramadhan.
Ketiga, mengingkari kemungkaran tidak sampai menimbulkan kemungkaran
yang lebih besar. Jika melakukan seperti ini, maka melarang kemungkaran
dalam kondisi ini menjadi haram.
Menghilangkan kemungkaran ada beberapa macam yaitu :
1. Bisa menghilangkan kemungkaran secara keseluruhan
2. Bisa meringankan kemungkaran yang ada
3. Berpindah menjadi kemungkaran yang semisalnya
4. Berpindah menjadi kemungkaran yang lebih besar
Jika kemungkaran bisa hilang secara keseluruhan atau sebagiannya saja,
maka pada kondisi ini hukum melarang kemungkaran menjadi wajib.
Jika kemungkaran yang dihilangkan itu berpindah kepada kemungkaran yang
semisal, maka perlu ditinjau lagi. Karena ada sebagian orang yang
demikian merasa ringan jika berpindah pada kemungkaran yang lainnya dan
juga ada yang lebih baik jika dia tetap pada kemungkaran yang dulu dia
lakukan.
Namun jika kemungkaran yang dihilangkan malah akan menimbulkan
kemungkaran yang lebih besar, maka dalam hal ini, nahi mungkar menjadi
haram.
Dalil yang menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran secara
keseluruhan atau sebagian adalah wajib dapat dilihat pada firman Allah
Ta'ala,
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa."
(QS. Al Maa'idah [5] : 2)
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar."
(QS. Ali Imron [3] : 104)
Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran menjadi
haram jika menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar dapat dilihat
pada firman Allah,
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain
Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas
tanpa pengetahuan. " (QS. Al An'am [6] : 108)
Dalam ayat ini, Allah melarang kita mencaci maki sesembahan orang
musyrik padahal itu adalah perkara yang wajib. Karena jika ini dilakukan
akan membawa kepada kemungkaran lebih besar yaitu orang-orang musyrik
malah akan mencaci Allah yaitu Dzat yang tersucikan dari segala bentuk
kekurangan.
Begitu juga berhubungan dengan istri termasuk sedekah. Dan sedekah ini
terkadang menjadi wajib dan terkadang cuma sekedar anjuran.
Apabila seseorang takut dirinya akan terjerumus dalam zina jika tidak
mendatangi istrinya maka mendatangi istrinya dalam kondisi ini menjadi
wajib. Dan jika tidak seperti ini, maka hukum mendatangi istri adalah
dianjurkan.
Mencukupkan Diri dengan yang Halal
Dari hadits ini terdapat suatu faedah yang sangat penting yaitu
'barangsiapa mencukupkan diri dengan yang halal maka itu akan menjadi
qurbah (bentuk ibadah) dan sedekah'. Karena Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam mengatakan,
"Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah
shodaqoh." (HR. Muslim)
Namun, perlu diperhatikan bahwa suatu perbuatan mubah bisa bernilai
pahala jika disertai dengan niat ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam,
"Tidaklah nafkah yang engkau cari untuk mengharapkan wajah Allah
kecuali engkau akan diberi balasan karenanya, sampai apa yang engkau
masukkan dalam mulut istrimu." (HR. Bukhari no. 56)
Juga dapat dilihat pada firman Allah Ta'ala,
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan
barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka
kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (QS. An Nisa' [4] :
114)
An Nawawi dalam Syarh Muslim 6/16 mengatakan,
"Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk
mengharapkan wajah Allah Ta'ala, maka dia akan berubah menjadi suatu
ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran)."
Namun ada catatan penting yang harus diperhatikan bahwa perkara mubah
itu bisa berpahala kalau disertai dengan niat untuk mengharapkan wajah
Allah. Tetapi ingat bahwa perkara mubah tersebut hanyalah sebagai sarana
saja dan tidak menjadi ibadah itu sendiri.
Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat dan memberi petunjuk
untuk melakukan amal sholih. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum
muslimin dan semoga Allah membalas amalan ini.
Sumber Rujukan Utama :
Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr
Syarh Al Arba'in An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
Syarh Al Arba'in An Nawawiyyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh
Shohih Tafsir Ibnu Katsir, Musthofa Al 'Adawiy
dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat
sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan
mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka". Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu
sesuatu untuk bershodaqaoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah
shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah
shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran
adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan
istrinya) adalah shodaqoh ". Mereka bertanya, " Wahai Rasulullah, apakah
(jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat
pahala?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tahukah
engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa.
Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia
mendapat pahala". (HR. Muslim no. 2376)
PENJELASAN DAN FAEDAH HADITS
Para Shahabat Bersemangat Dalam Melakukan Kebaikan
Kita dapat melihat dalam hadits ini bahwa para shahabat radhiyallahu
'anhum ajma'in sangat bersemangat dalam melakukan kebaikan dan saling
berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan dan amal sholih. Setiap di
antara mereka ingin mendapatkan sebagaimana yang didapati oleh yang
lainnya.
Dalam hadits ini terlihat bahwa shahabat-shahabat yang miskin mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengadukan kepada
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai orang-orang kaya yang
sering membawa banyak pahala karena sering bersedekah dengan kelebihan
harta mereka. Namun, pengaduan mereka ini bukanlah hasad (iri) dan
bukanlah menentang takdir Allah. Akan tetapi, maksud mereka adalah untuk
bisa mengetahui amalan yang bisa menyamai perbuatan orang-orang kaya.
Shahabat-shahabat yang miskin ingin agar amalan mereka bisa menyamai
orang kaya yaitu dalam hal sedekah walaupun mereka tidak memiliki harta.
Akhirnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan mereka
solusi bahwa bacaan dzikir, amar ma'ruf nahi mungkar, dan berhubungan
mesra dengan istri bisa menjadi sedekah.
Marilah Gemar untuk Bersedekah
Dalam hadits ini, kita dapat melihat bahwa shahabat-shahabat yang kaya
gemar sekali untuk berinfak dengan kelebihan harta mereka. Untuk lebih
memotivasi kita untuk banyak berinfak, kita dapat melihat pada firman
Allah Ta'ala,
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah [2] :
261)
Inilah permisalan yang Allah gambarkan yang menunjukkan berlipat
gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu selalu
mengharap ridho-Nya. Dan ingatlah bahwa setiap kebaikan akan dibalas 10
hingga 700 kali lipat.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, "Ayat ini merupakan isyarat
bahwa setiap amal sholih yang dilakukan akan diiming-imingi pahala yang
berlimpah bagi pelakunya. Sebagaimana Allah mengiming-imingi tanaman
bagi siapa yang menanamnya di tanah yang baik (subur)."
Sedekah, Tidak Hanya Berupa Harta
Dapat kita lihat dalam hadits ini bahwa suri tauladan kita -Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam- memberikan petunjuk kepada kita bahwa
sedekah bukanlah hanya dengan harta sehingga orang-orang miskin pun bisa
melakukannya. Di sini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menyebutkan bahwa bentuk sedekah yang lainnya adalah dengan bacaan
tasbih yaitu dzikir Subhanallah, bacaan takbir yaitu dzikir Allahu
akbar, bacaan tahmid yaitu dzikir Alhamdulillah, dan bacaan tahlil yaitu
dzikir Laa ilaha illallah. Begitu juga termasuk sedekah adalah mengajak
orang lain yang lalai untuk melakukan ketaatan dan melarang orang lain
dari perbuatan yang mungkar.
Perbuatan ini semua termasuk sedekah yang mampu dilakukan oleh orang
miskin dan bisa dilakukan setiap saat. Sedangkan, orang kaya hanya
mungkin dapat bersedekah pada satu waktu dan bukan setiap saat.
Berhubungan Intim dengan Istri Juga Termasuk Sedekah
Dalam hadits ini juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menyebutkan di antara bentuk sedekah yang lain adalah jima'
(bersenggama) dengan istri.
Namun, tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memaparkan yang
demikian, para shahabat langsung timbul tanda tanya. Bagaimana bisa
seseorang mendatangi istrinya dengan syahwat termasuk sedekah?
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab keraguan dari para shahabat
ini dengan menggunakan qiyas bil'aqsi (analogi yang berkebalikan) . Yaitu
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan "Tahukah engkau jika
seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian
pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat
pahala."
Ada perkataan yang sangat bagus sekali dari An Nawawi tatkala
menjelaskan makna hadits ini.
Beliau rahimahullah mengatakan, "Ketahuilah bahwa syahwat jima' adalah
syahwat yang paling disukai oleh para Nabi 'alaihimush sholatu was salam
dan orang-orang sholih. Mereka mengatakan,' Karena di dalam syahwat
tersebut terdapat maslahat (manfaat) diniyyah (agama) dan duniawiyyah
(dunia) di antaranya adalah bisa menjaga pandangan, menahan diri dari
zina, bisa menghasilkan anak dan memperbanyak umat ini hingga hari
kiamat. Syahwat selain jima' lebih akan mengeraskan hati sedangkan
syahwat jima' ini lebih akan melembutkan (mententramkan) hati'."
(Dinukil dari Ad Durotus Salafiyyah, hal 186)
Sedekah Ada yang Wajib dan Sunnah
Macam-macam sedekah yang disebutkan di atas yaitu bacaan dzikir dan
sebagainya, ada yang wajib dan sunnah.
Bacaan takbir, ada yang wajib dan ada yang tidak wajib. Takbiratul ihram
dalam shalat termasuk kewajiban dan bacaan takbir sesudah shalat adalah
anjuran (sunnah). Begitu juga dengan bacaan tahlil, tasbih, dan tahmid.
Amar ma'ruf nahi mungkar yaitu memerintahkan kepada ketaatan dan
mencegah dari kemungkaran, ini juga ada yang wajib yaitu fardhu 'ain
bagi yang memiliki kemampuan dan ada yang sifatnya fardhu kifayah yaitu
apabila sebagian telah melakukkannya dan mencukupi maka yang lain
menjadi gugur kewajibannya, juga ada yang hukumnya mustahab
(dianjurkan) .
Namun, untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar hendaklah melihat
syarat-syarat berikut ini.
Syarat Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar
Amar ma'ruf (memerintahkan kepada ketaatan) harus memiliki dua syarat
yaitu :
Pertama, orang yang memerintah harus memiliki ilmu bahwa yang
diperintahkan adalah suatu ketaatan. Jika dia tidak memiliki ilmu maka
dia tidak boleh beramar ma'ruf. Karena apabila seseorang seseorang
beramar ma'ruf padahal dia tidak mengetahui ilmunya (alias 'jahil atau
bodoh') maka berarti dia telah berkata tentang Allah tanpa ilmu.
Kedua, orang yang memerintah harus mengetahui bahwa orang yang
diajak/diperintah telah meninggalkan suatu kewajiban. Jika yang
memerintah tidak mengetahuinya, dia harus bertanya terlebih dahulu.
Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Jabir, beliau berkata,
"Pada hari Jum'at, seorang pria memasuki masjid sedangkan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Lalu Nabi berkata,
'Apakah kamu sudah shalat (tahiyatul masjid, pen)?' Pria tadi menjawab,
'Belum'. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Maka
shalatlah (tahiyatul masjid, pen) sebanyak dua raka'at. " (HR. Bukhari
no. 931)
Maka dalam hadits di atas terlihat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak memerintah langsung sebelum mengetahui apakah sudah
melakukan shalat atau belum.
Begitu juga nahi mungkar atau melarang dari kemungkaran juga harus
terpenuhi tiga syarat :
Pertama, harus diketahui terlebih dahulu bahwa perbuatan tersebut adalah
mungkar berdasarkan dalil syar'i dan bukan persangkaan atau pendapat
semata. Karena terkadang manusia mengingkari orang lain padahal dia
melakukan perbuatan yang disyari'atkan.
Kedua, harus diketahui bahwa orang yang ingin dilarang telah terjatuh
dalam suatu kemungkaran. Jika tidak mengetahui demikian, dia tidak boleh
melarang yang lainnya.
Misalnya : Ada seseorang makan dan minum pada saat Ramadhan di masjid.
Maka seseorang tidak boleh mengingkarinya sampai dia menanyakan terlebih
dahulu, apakah orang tersebut seorang musafir atau bukan. Karena seorang
musafir boleh saja makan dan minum ketika ramadhan.
Ketiga, mengingkari kemungkaran tidak sampai menimbulkan kemungkaran
yang lebih besar. Jika melakukan seperti ini, maka melarang kemungkaran
dalam kondisi ini menjadi haram.
Menghilangkan kemungkaran ada beberapa macam yaitu :
1. Bisa menghilangkan kemungkaran secara keseluruhan
2. Bisa meringankan kemungkaran yang ada
3. Berpindah menjadi kemungkaran yang semisalnya
4. Berpindah menjadi kemungkaran yang lebih besar
Jika kemungkaran bisa hilang secara keseluruhan atau sebagiannya saja,
maka pada kondisi ini hukum melarang kemungkaran menjadi wajib.
Jika kemungkaran yang dihilangkan itu berpindah kepada kemungkaran yang
semisal, maka perlu ditinjau lagi. Karena ada sebagian orang yang
demikian merasa ringan jika berpindah pada kemungkaran yang lainnya dan
juga ada yang lebih baik jika dia tetap pada kemungkaran yang dulu dia
lakukan.
Namun jika kemungkaran yang dihilangkan malah akan menimbulkan
kemungkaran yang lebih besar, maka dalam hal ini, nahi mungkar menjadi
haram.
Dalil yang menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran secara
keseluruhan atau sebagian adalah wajib dapat dilihat pada firman Allah
Ta'ala,
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa."
(QS. Al Maa'idah [5] : 2)
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar."
(QS. Ali Imron [3] : 104)
Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran menjadi
haram jika menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar dapat dilihat
pada firman Allah,
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain
Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas
tanpa pengetahuan. " (QS. Al An'am [6] : 108)
Dalam ayat ini, Allah melarang kita mencaci maki sesembahan orang
musyrik padahal itu adalah perkara yang wajib. Karena jika ini dilakukan
akan membawa kepada kemungkaran lebih besar yaitu orang-orang musyrik
malah akan mencaci Allah yaitu Dzat yang tersucikan dari segala bentuk
kekurangan.
Begitu juga berhubungan dengan istri termasuk sedekah. Dan sedekah ini
terkadang menjadi wajib dan terkadang cuma sekedar anjuran.
Apabila seseorang takut dirinya akan terjerumus dalam zina jika tidak
mendatangi istrinya maka mendatangi istrinya dalam kondisi ini menjadi
wajib. Dan jika tidak seperti ini, maka hukum mendatangi istri adalah
dianjurkan.
Mencukupkan Diri dengan yang Halal
Dari hadits ini terdapat suatu faedah yang sangat penting yaitu
'barangsiapa mencukupkan diri dengan yang halal maka itu akan menjadi
qurbah (bentuk ibadah) dan sedekah'. Karena Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam mengatakan,
"Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah
shodaqoh." (HR. Muslim)
Namun, perlu diperhatikan bahwa suatu perbuatan mubah bisa bernilai
pahala jika disertai dengan niat ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam,
"Tidaklah nafkah yang engkau cari untuk mengharapkan wajah Allah
kecuali engkau akan diberi balasan karenanya, sampai apa yang engkau
masukkan dalam mulut istrimu." (HR. Bukhari no. 56)
Juga dapat dilihat pada firman Allah Ta'ala,
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan
barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka
kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (QS. An Nisa' [4] :
114)
An Nawawi dalam Syarh Muslim 6/16 mengatakan,
"Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk
mengharapkan wajah Allah Ta'ala, maka dia akan berubah menjadi suatu
ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran)."
Namun ada catatan penting yang harus diperhatikan bahwa perkara mubah
itu bisa berpahala kalau disertai dengan niat untuk mengharapkan wajah
Allah. Tetapi ingat bahwa perkara mubah tersebut hanyalah sebagai sarana
saja dan tidak menjadi ibadah itu sendiri.
Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat dan memberi petunjuk
untuk melakukan amal sholih. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum
muslimin dan semoga Allah membalas amalan ini.
Sumber Rujukan Utama :
Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr
Syarh Al Arba'in An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin
Syarh Al Arba'in An Nawawiyyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh
Shohih Tafsir Ibnu Katsir, Musthofa Al 'Adawiy
Ramadhanku Kali Ini, Hebat Dan Luar Biasa
Beberapa sahabat menetapkan target-target Ramadhan kali ini dengan sangat
super. Tamat membaca Quran, tarawih full, ‘itikaf 10 hari terakhir, baca
buku penguat iman 15 judul, infaq tiap hari, shalat fardhu berjamaah selalu,
menghafal 5 ayat per hari, selesai membaca tafsir Fi Zilalil Quran, dan yang
pasti tidak batal puasa sehari pun. Untuk memastikannya, *Resolusi Ramadhan
1430 H*tersebut di-print untuk ditempel di ruang keluarga. Insya Allah
tercapai. Amiin. Sahabat, sudahkah Anda membuatnya?
---
Doable is the best vision – Mario Teguh
Nah, saat Anda menghadapi Bulan Ramadhan 1430 H sore ini, apa rencana Anda
mewujudkan resolusi Anda. Dalam buku *Dream Manager* karya Matthew Kelly
(Sygma Publishing), dikatakan bahwa permasalahan umum yang ditemui adalah
bukannya ketidakmampuan menuliskan mimpi, melainkan ketidakjelasan cara-cara
mewujudkannya. Kebingungan akibat gap (jarak) yang jauh antara realitas
terkini dengan pernyataan impian sering membuat orang menyembunyikan
impiannya dan kemudian berhenti bermimpi.
Terkait Resolusi Ramadhan yang belum Anda tuliskan itu, apakah karena
ketidakjelasan bentuk jembatan penghubung antara ‘realitas pola ibadah Anda
11 bulan ini’ dengan ‘aktivitas shalih impian’? Jika ini adalah kendalanya,
Anda memerlukan bantuan*Manajer Mimpi*. Mengapa? Karena kita memiliki
kemampuan yang luar biasa untuk membohongi diri sendiri dengan perilaku
mencari-cari alasan dan pembenaran terhadap diri sendiri. Akan tetapi,
beruntungnya Anda, ternyata secara alamiah dan informal kita semua
terpanggil untuk berperan sebagai Manajer Mimpi. Jadi pilihlah teman dekat,
pasangan, murabbi, ustadz, guru ngaji, atau … atasan Anda sebagai Manajer
Mimpi Anda! It is OK.
Nah sekarang, bersama Manajer Mimpi Anda, susunlah sebuah rencana aktivitas
mencapai Resolusi Ramadhan kali ini. Tetapkan tahapan-tahapan realistisnya
per pekan. Kemudian, tetapkan pula jadwal evaluasinya, untuk membuat
langkah-langkah penyesuaian jika ada kendala tak terpecahkan.
---
Sahabat-sahabat terbaik dalam kehidupan.
Selamat menunaikan ibadah ramadhan. Susunlah sebuah Resolusi Ramadhan 1430 H
yang spektakuler. Karena tidak ada mispersepsi yang paling berbahaya selain
menetapkan target yang rendah dan berhasil mencapainya.
Marhaban Yaa Ramadhan. Mohon maaf lahir dan bathin.
super. Tamat membaca Quran, tarawih full, ‘itikaf 10 hari terakhir, baca
buku penguat iman 15 judul, infaq tiap hari, shalat fardhu berjamaah selalu,
menghafal 5 ayat per hari, selesai membaca tafsir Fi Zilalil Quran, dan yang
pasti tidak batal puasa sehari pun. Untuk memastikannya, *Resolusi Ramadhan
1430 H*tersebut di-print untuk ditempel di ruang keluarga. Insya Allah
tercapai. Amiin. Sahabat, sudahkah Anda membuatnya?
---
Doable is the best vision – Mario Teguh
Nah, saat Anda menghadapi Bulan Ramadhan 1430 H sore ini, apa rencana Anda
mewujudkan resolusi Anda. Dalam buku *Dream Manager* karya Matthew Kelly
(Sygma Publishing), dikatakan bahwa permasalahan umum yang ditemui adalah
bukannya ketidakmampuan menuliskan mimpi, melainkan ketidakjelasan cara-cara
mewujudkannya. Kebingungan akibat gap (jarak) yang jauh antara realitas
terkini dengan pernyataan impian sering membuat orang menyembunyikan
impiannya dan kemudian berhenti bermimpi.
Terkait Resolusi Ramadhan yang belum Anda tuliskan itu, apakah karena
ketidakjelasan bentuk jembatan penghubung antara ‘realitas pola ibadah Anda
11 bulan ini’ dengan ‘aktivitas shalih impian’? Jika ini adalah kendalanya,
Anda memerlukan bantuan*Manajer Mimpi*. Mengapa? Karena kita memiliki
kemampuan yang luar biasa untuk membohongi diri sendiri dengan perilaku
mencari-cari alasan dan pembenaran terhadap diri sendiri. Akan tetapi,
beruntungnya Anda, ternyata secara alamiah dan informal kita semua
terpanggil untuk berperan sebagai Manajer Mimpi. Jadi pilihlah teman dekat,
pasangan, murabbi, ustadz, guru ngaji, atau … atasan Anda sebagai Manajer
Mimpi Anda! It is OK.
Nah sekarang, bersama Manajer Mimpi Anda, susunlah sebuah rencana aktivitas
mencapai Resolusi Ramadhan kali ini. Tetapkan tahapan-tahapan realistisnya
per pekan. Kemudian, tetapkan pula jadwal evaluasinya, untuk membuat
langkah-langkah penyesuaian jika ada kendala tak terpecahkan.
---
Sahabat-sahabat terbaik dalam kehidupan.
Selamat menunaikan ibadah ramadhan. Susunlah sebuah Resolusi Ramadhan 1430 H
yang spektakuler. Karena tidak ada mispersepsi yang paling berbahaya selain
menetapkan target yang rendah dan berhasil mencapainya.
Marhaban Yaa Ramadhan. Mohon maaf lahir dan bathin.
Jumat, 14 Agustus 2009
"Dunia memang aneh", Gumam Pak Ustadz
"Apanya yang aneh Pak?" Tanya Penulis yang fakir ini..
"Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia
menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan,
sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku
menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa"
"Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan
pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai
sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum
alami" Kata Pak Ustadz.
Tanpa
banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz,
menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian
dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 200 M dari rumah.
Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang
sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya"
"Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?" Tanya
ibu muda itu.
Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi
ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yang
lain rasanya...
"Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang
semestinya seperti itu dibilang "tumben"?
Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengah
jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?
Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?
Orang yang pergi
ke masjid akan terasa "aneh" ketika orang-orang lain
justru tengah asik nonton reality show "SUPERSOULMATE" .
Orang ke masjid akan terasa "aneh" ketika melalui kerumunan orang-orang
yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi
suara panggilan adzan.
Orang ke masjid terasa "aneh" ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan
mobilnya yang kotor karena kehujanan.
Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,
"Kamu akan banyak menjumpai "keanehan-keanehan" lain di sekitarmu," kata
Pak Ustadz.
"Keanehan-keanehan" di sekitar kita?
Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha,
pasti akan nampak "aneh" di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca
koran dan mengobrol.
Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa "aneh",
karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh di
tengah-tengah
sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.
Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur'an ba'da shalat, akan terasa aneh di
tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan
makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya
nyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang di
tempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang
di tempat shalat. Aneh, bukan?
Cobalah hari ini shalat Jum'at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid
masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang
selesai.
Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa
aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal
nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, test
saja.
Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau
ayat al Qur'an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membaca
artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.
Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut
menjadi orang "aneh" selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari'at
dan tata nilai serta norma yang benar.
Jangan takut dibilang "tumben" ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian
rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur'an (Al A'raf:31)
Jangan takut dikatakan "sok alim" ketika kita lakukan shalat dhuha di
kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul
tak karuan.
Jangan takut dikatakan "Sok Rajin" ketika kita shalat tepat pada
waktunya,
karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya
terhadap orang-orang beriman.
"Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu
berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.. Kemudian apabila kamu Telah
merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya
shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman." (Annisaa:103)
Jangan takut untuk shalat Jum'at/shalat berjama'ah berada di shaf terdepan,
karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada
kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu'alaihi wassalam para sahabat
bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (Al
Jumu'ah:9)
Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur'an,
karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling
menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran
adalah sebaik-baik perkataan;
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33)
Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah
menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekali
kita kirim artikel,
lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan,
lenyap donk ladang amal kita....
Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim
e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau
bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?
Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong
itu yang disuruh kok, "sampaikan dariku walau satu ayat" (potongan dari
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn
Umar).
Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran
dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang
terkenal, e-mail dari manager atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan
ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja. Mutiara
akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah
tidak akan
pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah
sekalipun.
Lakukan "keanehan-keanehan" yang dituntun manhaj dan syari'at yang benar.
Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh
ditengah orang-orang yang berbikini dan ber 'you can see'.
Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur'an & Hadist), meskipun
akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.
Lagian kenapa kita harus takut disebut "orang aneh" atau "manusia langka"
jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan
menyelamatkan kita?
Selamat jadi orang aneh yang bersyari'at dan bermanhaj yang benar...
NB: Silahkan menyebarkan email ini. Tidak ada embel-embel apapun melainkan
"DAKWAH" mengharap Ridho Allah.
Fuad Baradja
"Apanya yang aneh Pak?" Tanya Penulis yang fakir ini..
"Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia
menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan,
sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku
menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa"
"Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan
pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai
sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum
alami" Kata Pak Ustadz.
Tanpa
banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz,
menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian
dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 200 M dari rumah.
Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang
sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya"
"Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?" Tanya
ibu muda itu.
Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi
ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yang
lain rasanya...
"Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang
semestinya seperti itu dibilang "tumben"?
Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengah
jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?
Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?
Orang yang pergi
ke masjid akan terasa "aneh" ketika orang-orang lain
justru tengah asik nonton reality show "SUPERSOULMATE" .
Orang ke masjid akan terasa "aneh" ketika melalui kerumunan orang-orang
yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi
suara panggilan adzan.
Orang ke masjid terasa "aneh" ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan
mobilnya yang kotor karena kehujanan.
Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,
"Kamu akan banyak menjumpai "keanehan-keanehan" lain di sekitarmu," kata
Pak Ustadz.
"Keanehan-keanehan" di sekitar kita?
Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha,
pasti akan nampak "aneh" di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca
koran dan mengobrol.
Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa "aneh",
karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh di
tengah-tengah
sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.
Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur'an ba'da shalat, akan terasa aneh di
tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan
makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya
nyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang di
tempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang
di tempat shalat. Aneh, bukan?
Cobalah hari ini shalat Jum'at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid
masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang
selesai.
Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa
aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal
nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, test
saja.
Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau
ayat al Qur'an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membaca
artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.
Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut
menjadi orang "aneh" selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari'at
dan tata nilai serta norma yang benar.
Jangan takut dibilang "tumben" ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian
rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur'an (Al A'raf:31)
Jangan takut dikatakan "sok alim" ketika kita lakukan shalat dhuha di
kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul
tak karuan.
Jangan takut dikatakan "Sok Rajin" ketika kita shalat tepat pada
waktunya,
karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya
terhadap orang-orang beriman.
"Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu
berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.. Kemudian apabila kamu Telah
merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya
shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman." (Annisaa:103)
Jangan takut untuk shalat Jum'at/shalat berjama'ah berada di shaf terdepan,
karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada
kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu'alaihi wassalam para sahabat
bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (Al
Jumu'ah:9)
Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur'an,
karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling
menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran
adalah sebaik-baik perkataan;
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33)
Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah
menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekali
kita kirim artikel,
lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan,
lenyap donk ladang amal kita....
Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim
e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau
bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?
Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong
itu yang disuruh kok, "sampaikan dariku walau satu ayat" (potongan dari
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn
Umar).
Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran
dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang
terkenal, e-mail dari manager atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan
ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja. Mutiara
akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah
tidak akan
pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah
sekalipun.
Lakukan "keanehan-keanehan" yang dituntun manhaj dan syari'at yang benar.
Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh
ditengah orang-orang yang berbikini dan ber 'you can see'.
Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur'an & Hadist), meskipun
akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.
Lagian kenapa kita harus takut disebut "orang aneh" atau "manusia langka"
jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan
menyelamatkan kita?
Selamat jadi orang aneh yang bersyari'at dan bermanhaj yang benar...
NB: Silahkan menyebarkan email ini. Tidak ada embel-embel apapun melainkan
"DAKWAH" mengharap Ridho Allah.
Fuad Baradja
>>>>>> MUNAJAT CINTA <<<<<<
Wahai Tuhanku, Engkaulah tempat setiap keluhan
Engkau hadir dalam setiap perkumpulan
Menyaksikan semua rahasia
Tujuan akhir bagi setiap kebutuhan
Pelipur semua duka lara
Tumpuan semua yang membutuhkan
Benteng bagi semua yang melarikan diri
Ketenangan bagi semua yang ketakutan
Perisai bagi mereka yang tak berdaya
Perbendaharaan bagi mereka yang tak punya
Penghilang semua derita
Penolong mereka yang salih
Demikianlah ALLAH, Tuhan kita, tiada Tuhan selain-NYA
Engkaulah pemberi kecukupan untuk semua hamba yang bertawakal kepada-Mu
Engkaulah Penjaga orang yang berlindung kepada-Mu dan merendahkan diri di hadapan-Mu
Engkaulah Pelindung bagi yang mencari perlindungan kepada-Mu
Engkaulah Penolong bagi yang meminta tolong kepada-Mu
Engkaulah mengampuni dosa-dosa orang yang meminta ampunan kepada-Mu
Engkaulah Pemaksa para penindas
Engkaulah Tertinggi di kalangan para petinggi
Engkaulah Terbesar di kalangan para pembesar
Engkaulah Tuan di kalangan para tuan
Engkaulah Penolong mereka yang berteriak meminta pertolongan
Engkaulah Pembebas mereka yang tertindih malapetaka
Engkaulah Pengabul permintaan mereka yang tertekan
Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar di antara semua yang mendengar
Engkaulah Dzat Yang Maha Melihat di antara semua yang melihat
Engkaulah Dzat Yang Maha Bijaksana dalam memutuskan di antara semua hakim
Engkaulah Dzat Yang Maha Cepat Perhitungan-Nya di antara semua yang menghitung
Engkaulah Dzat Yang Maha Kasih di antara semua yang berbelas kasih
Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun di antara semua yang memberi ampun
Engkaulah Pemenuh semua hajat kaum beriman
Engkaulah Penyelamat orang-orang salih
Engkaulah ALLAH, tiada Tuhan selain-MU, Tuhan sekalian alam
Amunilah semua dosaku
Tutupilah semua cacatku
Bukakanlah untukku dari sisi-Mu rahmat dan rezeki yang luas
Wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang berbelas kasih
Cukuplah ALLAH bagi kami, sebaik-baik Pemelihara
Tiada daya dan kuasa kecuali melalui ALLAH, Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung...
Wahai Tuhanku, Engkaulah tempat setiap keluhan
Engkau hadir dalam setiap perkumpulan
Menyaksikan semua rahasia
Tujuan akhir bagi setiap kebutuhan
Pelipur semua duka lara
Tumpuan semua yang membutuhkan
Benteng bagi semua yang melarikan diri
Ketenangan bagi semua yang ketakutan
Perisai bagi mereka yang tak berdaya
Perbendaharaan bagi mereka yang tak punya
Penghilang semua derita
Penolong mereka yang salih
Demikianlah ALLAH, Tuhan kita, tiada Tuhan selain-NYA
Engkaulah pemberi kecukupan untuk semua hamba yang bertawakal kepada-Mu
Engkaulah Penjaga orang yang berlindung kepada-Mu dan merendahkan diri di hadapan-Mu
Engkaulah Pelindung bagi yang mencari perlindungan kepada-Mu
Engkaulah Penolong bagi yang meminta tolong kepada-Mu
Engkaulah mengampuni dosa-dosa orang yang meminta ampunan kepada-Mu
Engkaulah Pemaksa para penindas
Engkaulah Tertinggi di kalangan para petinggi
Engkaulah Terbesar di kalangan para pembesar
Engkaulah Tuan di kalangan para tuan
Engkaulah Penolong mereka yang berteriak meminta pertolongan
Engkaulah Pembebas mereka yang tertindih malapetaka
Engkaulah Pengabul permintaan mereka yang tertekan
Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar di antara semua yang mendengar
Engkaulah Dzat Yang Maha Melihat di antara semua yang melihat
Engkaulah Dzat Yang Maha Bijaksana dalam memutuskan di antara semua hakim
Engkaulah Dzat Yang Maha Cepat Perhitungan-Nya di antara semua yang menghitung
Engkaulah Dzat Yang Maha Kasih di antara semua yang berbelas kasih
Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun di antara semua yang memberi ampun
Engkaulah Pemenuh semua hajat kaum beriman
Engkaulah Penyelamat orang-orang salih
Engkaulah ALLAH, tiada Tuhan selain-MU, Tuhan sekalian alam
Amunilah semua dosaku
Tutupilah semua cacatku
Bukakanlah untukku dari sisi-Mu rahmat dan rezeki yang luas
Wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang berbelas kasih
Cukuplah ALLAH bagi kami, sebaik-baik Pemelihara
Tiada daya dan kuasa kecuali melalui ALLAH, Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung...
Langganan:
Postingan (Atom)
